INFODEWATANEWS.COM - Dalam kehidupan masyarakat Hindu, khususnya di Bali, kita sering mendengar kata-kata suci seperti Astungkara, Svaha, dan Tathastu. Ketiga kata ini bukan sekadar ungkapan biasa, melainkan memiliki makna spiritual yang dalam dan berkaitan erat dengan doa, harapan, serta hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Sayangnya, masih banyak orang yang mengucapkannya tanpa memahami arti dan konteks penggunaannya. Padahal, pemahaman yang benar akan membantu kita menjaga kesakralan kata-kata tersebut serta menggunakannya secara tepat sesuai ajaran agama dan nilai etika spiritual.
Kata Astungkara berasal dari gabungan kata Astu dan Kara yang mendapat sisipan “ng”. Astu berarti “semoga terjadi”, sedangkan Kara berarti “penyebab”. Penyebab yang dimaksud di sini adalah Tuhan, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan demikian, Astungkara bermakna “semoga terjadi atas kehendak-Nya”.
Kata ini umumnya diucapkan ketika seseorang menyampaikan doa, harapan, atau keinginan pribadi kepada Tuhan. Misalnya, “Astungkara saya diberikan kesehatan,” atau “Astungkara perjalanan ini berjalan lancar dan selamat sampai tujuan.” Penggunaan kata ini menegaskan sikap pasrah dan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Tuhan.
Selanjutnya, Svaha atau Swaha memiliki makna yang berbeda namun tetap sakral. Dalam tradisi Weda, Svaha dikenal sebagai nama permaisuri Dewa Agni, dewa api suci. Svaha sering diibaratkan sebagai lagu rohani dan juga memiliki arti “semoga diberkati”.
Kata ini lazim diucapkan di akhir mantra, sebagaimana kata “Om” diucapkan di awal mantra. Svaha juga diucapkan saat menghaturkan persembahan, terutama ketika persembahan dituangkan ke dalam api suci. Contohnya, “Om Namah Shivaya Namah, Svaha.” Pengucapan Svaha melambangkan penyempurnaan doa dan persembahan agar diterima oleh Tuhan melalui perantara api suci.
Sementara itu, Tathastu berasal dari kata Tat yang berarti “itu” (merujuk pada doa atau permohonan yang diucapkan), dan Astu yang berarti “semoga terjadi”. Secara keseluruhan, Tathastu bermakna “semoga terjadilah seperti itu”.
Kata ini tidak diucapkan untuk doa pribadi, melainkan sebagai bentuk dukungan dan doa dari orang lain terhadap harapan yang disampaikan seseorang. Misalnya, ketika seseorang berkata, “Astungkara tahun depan saya bisa membeli rumah,” maka orang yang mendengar dapat menjawab, “Tathastu.” Ini menandakan bahwa kita ikut mendoakan agar harapan tersebut terwujud sesuai kehendak Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dari ketiga kata tersebut, dapat dipahami bahwa Astungkara, Svaha, dan Tathastu memiliki fungsi dan konteks yang berbeda, namun sama-sama bersifat suci. Ketiganya hanya pantas diucapkan untuk doa yang tulus, ikhlas, dan bertujuan baik. Kata-kata ini tidak boleh digunakan untuk harapan yang bersifat negatif, apalagi untuk mencelakakan orang lain atau menginginkan penderitaan bagi sesama, karena hal tersebut bertentangan dengan nilai dharma dan ajaran kebaikan.
Memahami makna dan penggunaan Astungkara, Svaha, dan Tathastu adalah bentuk penghormatan kita terhadap ajaran agama Hindu dan kesucian doa itu sendiri.
Dengan menggunakan kata-kata suci ini secara tepat, kita tidak hanya menjaga tradisi dan warisan spiritual leluhur, tetapi juga melatih diri untuk selalu berdoa dengan niat yang baik, pikiran yang bersih, dan hati yang penuh ketulusan.
Astungkara, melalui pemahaman yang benar, kita dapat semakin bijaksana dalam berkata, berdoa, dan menjalani kehidupan sesuai dengan nilai dharma. Tathastu.(Abr /IDN).

0Komentar