TpOoBSG9TfCoGSd9TpY5GfC8Ti==
Light Dark

Tumpek Uye, Tradisi Hindu Bali yang Mengajarkan Kasih dan Tanggung Jawab pada Hewan

Redaksi InfoDewataNews |    ðŸ•’ Sabtu, Februari 07, 2026
Gambar Utama

Perayaan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang sebagai tradisi umat Hindu di Bali dalam memuliakan hewan ternak dan peliharaan. Foto Ilustrasi : Ambara /InfoDewataNews 


INFODEWATANEWS.COM, Dalam ajaran Hindu yang hidup dan berkembang di Bali, keseimbangan antara manusia, alam, dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan menjadi fondasi utama kehidupan. Kesadaran akan harmoni ini tidak hanya diwujudkan melalui ajaran filosofis, tetapi juga melalui perayaan hari-hari suci yang sarat makna. Salah satu di antaranya adalah Tumpek Kandang atau Tumpek Uye, hari raya umat Hindu yang secara khusus ditujukan untuk memuliakan hewan ternak dan peliharaan.

Tumpek Kandang atau Tumpek Uye diperingati setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Uye dalam kalender Bali. Hari suci ini menjadi momentum reflektif bagi umat Hindu untuk mengungkapkan rasa syukur atas jasa hewan yang telah membantu kehidupan manusia, sekaligus sebagai wujud kasih sayang terhadap seluruh makhluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Lebih dari sekadar ritual, Tumpek Uye mengandung pesan spiritual mendalam tentang tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan semesta dan menyucikan diri dari sifat-sifat kebinatangan yang lahir dari ego dan keserakahan.

Makna Tumpek Kandang sebagai Ungkapan Syukur dan Kasih

Tumpek Kandang merupakan perwujudan rasa terima kasih manusia kepada hewan yang selama ini berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Hewan ternak seperti sapi, kambing, babi, ayam, serta hewan peliharaan seperti anjing dan burung, telah membantu manusia baik secara ekonomi, sosial, maupun spiritual.

Dalam perayaan Tumpek Uye, umat Hindu melaksanakan persembahyangan serta memberikan sesajen atau banten kepada hewan-hewan tersebut. Kandang dibersihkan dan dihias sebagai simbol penghormatan, sementara doa-doa dipanjatkan agar hewan selalu sehat dan membawa keharmonisan bagi lingkungan sekitarnya.

Ritual ini menegaskan bahwa hewan bukan sekadar alat produksi atau objek kepemilikan, melainkan makhluk hidup yang memiliki nilai dan peran dalam tatanan kehidupan. Tumpek Uye menjadi pengingat bahwa rasa syukur sejati harus diwujudkan dalam sikap peduli dan perlakuan yang layak terhadap hewan.

Tumpek Uye dan Pemujaan Sang Hyang Siwa Pasupati

Secara teologis, Tumpek Kandang merupakan hari pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Pasupati atau Rare Angon, yang dimaknai sebagai penggembala dan pelindung seluruh makhluk hidup. Dalam manifestasi ini, Tuhan dipandang sebagai penjaga keseimbangan antara manusia, hewan, dan alam semesta.

Melalui pemujaan ini, umat Hindu diingatkan bahwa manusia memiliki peran sebagai pengelola, bukan penguasa yang sewenang-wenang atas makhluk lain. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Tat Twam Asi, yang mengajarkan kesatuan esensi seluruh makhluk hidup, serta nilai Ahimsa atau tanpa kekerasan.

Tumpek Uye menjadi sarana introspeksi agar manusia mampu menahan dorongan ego, tidak mengeksploitasi hewan secara berlebihan, dan mengedepankan welas asih dalam setiap tindakan. Dengan demikian, spiritualitas tidak berhenti pada ritual, tetapi tercermin dalam perilaku nyata.

Simbolisme Mengandangkan Ego dan Relevansi di Era Modern

Selain dimaknai secara lahiriah, Tumpek Kandang juga memiliki simbolisme filosofis yang mendalam. Secara batiniah, perayaan ini dimaknai sebagai upaya “mengandangkan” sifat liar atau kebinatangan dalam diri manusia, seperti keserakahan, amarah, dan hawa nafsu yang tidak terkendali.

Dengan mengekang sifat-sifat tersebut, manusia diharapkan mampu menjadi pribadi yang lebih bijaksana, beretika, dan berperikemanusiaan. Nilai ini selaras dengan konsep Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis antara manusia dan alam (palemahan), yang mencakup hubungan manusia dengan hewan.

Di tengah krisis lingkungan, kepunahan satwa, dan meningkatnya konflik antara manusia dan alam, pesan Tumpek Uye menjadi sangat relevan. Perayaan ini mengingatkan bahwa keseimbangan hidup hanya dapat tercapai jika manusia hidup berdampingan secara damai dengan satwa, baik peliharaan maupun liar.

Tumpek Uye pada akhirnya bukan hanya ritual keagamaan yang dijalankan secara turun-temurun, tetapi juga pedoman moral dan spiritual yang melintasi zaman. Ia mengajarkan bahwa kualitas kemanusiaan seseorang tercermin dari caranya memperlakukan makhluk lain yang lebih lemah dan bergantung pada manusia.

Dengan memaknai Tumpek Kandang secara utuh, umat Hindu diajak untuk menumbuhkan kasih sayang, menahan ego, serta menjaga keharmonisan antara manusia dan satwa demi keberlangsungan hidup bersama. Nilai-nilai inilah yang menjadikan Tumpek Uye tetap relevan sebagai simbol spiritualitas, keseimbangan, dan kemanusiaan di tengah perubahan zaman. (Abr /IDN). 

0Komentar

Copyright © 2025 - INFODEWATANEWS.COM . All Rights Reserved. Develop by Komunitas Ngranjing.
Tentang Kami | Perjalanan Kami | Makna Logo | Privasi | Syarat dan Ketentuan | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Redaksi | Kontak Kami